Tuesday, May 23, 2017

Si Baju Kurung Kasut Kanvas

Bismillah.

Saya bukanlah peminat novel. Saya tak banyak baca novel. Ya memang saya banyak beli buku tapi kebanyakannya samada buku non-fiction, buku antologi cerpen/puisi, buku agama, dan lain-lain yang bukan novel. Bukanlah kerana saya tak suka novel, tapi sebab masa saya terhad. Dan untuk membaca novel, saya perlu luangkan masa yang banyak sekaligus untuk habiskan satu novel.

Sedangkan saya kalau baca buku, saya baca sedikit demi sedikit, selit-menyelit untuk cari waktu membaca. Kalau saya baca novel sekerat-kerat, boleh jadi saya lupa kesinambungan cerita sebelum tu setiap kali saya nak baca. Kalau buku selain novel, tak ada masalah kalau saya baca sekerat-sekerat, sebab kisahnya tak bersambung.

Cuma untuk novel tertentu, saya baca dan jatuh hati, saya akan cari masa di tengah malam untuk membacanya. Biasanya ambil masa juga dalam 3-4 hari untuk habiskan. Dan baru-baru ni, masa saya pergi MPH book fest di PICC, saya tertarik nak beli novel Si Baju Kurung Kasut Kanvas karya Umie Nadzimah. Tertarik semata-mata sebab tajuknya. ;) Sebab dari tajuk tu sendiri saya dah tahu yang cerita ni mesti bukan cerita cliche novel, sebab saya tak minat sangat novel cinta, heroin cantik, hero kaya, dan seterusnya.

Dan Alhamdulillah saya sudah habis baca novel tersebut & berpuas hati. <3 Saya bukan nak buat ringkasan untuk novel ni, tapi saya cuma nak cerita sikit kenapa saya sukakannya.

1) Heroinnya. Suria Rihana. Dia tak macam heroin dalam novel-novel lain, dia tak berapa cantik, badan sedikit berisi, suka pakai baju kurung, tudung & kasut kanvas. Tapi dia baik hati, ajar mengaji, jaga kucing, tapi bukanlah jenis wanita Melayu terakhir. Mulutnya laser juga untuk perkara-perkara tertentu yang perlu ditegur. ;)

2) Heronya. Gary Rahman. Ya, orang kaya, kacak, diminati ramai, pernah hanyut dalam dunia popular. Tetapi tiba satu masa, dia rasa penat dengan semua tu. Dia penat melayan wanita-wanita 'fake' yang mahu mendekatinya. Baginya ketulusan hati jauh lebih penting berbanding rupa. meski pada awalnya dia tidak banyak tahu tentang ilmu agama, tetapi dia gigih belajar walaupun umurnya sudah terlalu dewasa. Dan sebelum menjadi suami, dia tahu dia perlu jadi lebih baik dari segi ilmu agama berbanding isterinya.

3) Tiada adegan sentuh menyentuh. Biasanya novel yang saya pernah baca, ada adegan tersebut antara hero-heroin.

4) Pengajaran dari cerita ni sangat banyak. Antaranya tentang kesabaran, tentang kekayaan jiwa, tentang berusaha gigih dari bawah, tentang mengubah diri menjadi lebih baik, dan macam-macam lagi.

5) Ceritanya sempoi.

Silakan beli & baca. :D :D :D

Okaylah, dah nak masuk Maghrib dan saya pun tak dapat nak tulis panjang-panjang. Kesimpulannya saya rasa saya dah jatuh hati dengan penulisan Umie Nadzimah dan berhasrat untuk dapatkan novel-novelnya yang lain. ;)

Jumpa lagi di entri saya yang lain, inshaAllah.


Sunday, May 21, 2017

Ayah Jo a.k.a Prof Joni Tamkin

Bismillah.

Alhamdulillah, for being given the time & chance to write something in my Facebook regarding the death of late Professor Joni Tamkin a.k.a Ayah Jo (he was my husband's uncle). You can read it here if you like: HERE. Every time I am able to write, a satisfaction will suddenly reside in heart. Thank you Allah.

I don't intend to write the same thing here, and initially I was thinking of writing about something else in blog. Somehow, my current feeling doesn't really the suit with the theme of the particular post that I want to write. Kinda having such a melancholic feeling, thinking about the sudden death of Ayah Jo. :'(

And to top it all, this tiny little heart grieves more when I try to put myself in the shoe of late Ayah Jo's wife; Che Na. I wonder whether I will be as strong as her to lose a dear husband without being given any signs or warning about death. I was thinking how Che Na slept on that final night with her husband, without having any idea that the next day, her life will change, a lot.

This teaches me to really appreciate the presence of those beloved people to us. Have you ever wonder, how remorseful the feeling will be if the person that you love dies during the bad term between both of you, without being given the chance to apologize to each other? Allahuakbar, I can't imagine that and I really pray that such thing will never happen to me. I will always remind myself that I need to be the best version of myself whenever I am dealing with the people I love, especially my family.

Ya Allah, I do & really hope that the passing of late Ayah Jo is a great reminder for me to change to be a better muslim & become steadfast in the right path. I don't want to die while Allah is not please with me. I wanna die in husnul khatimah. I want the barzakh life to be my resting place,before transferring to my final abode, Jannah inshaAllah.

Sorry I need to stop writing now. InshaAllah will write more. :) Thanks for reading. <3



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...